Disclaimer: Artikel ini dibuat oleh Gemini
Siapa yang Menentukan Harga Saham Saat Pembukaan di Ex-Date?
Harga saham saat pembukaan di Ex-Date, seperti halnya harga pembukaan setiap hari, ditentukan oleh mekanisme permintaan dan penawaran (supply and demand) yang terjadi selama sesi Pra-Pembukaan (Pre-Opening) di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Meskipun demikian, ada "panduan" kuat yang digunakan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk menentukan harga acuan dan range auto rejection pada Ex-Date:
-
Harga Teoritis Hasil Tindakan Korporasi (Theoretical Price Adjustment): BEI, melalui sistem perdagangannya (JATS Next-G), secara internal akan menghitung harga acuan teoritis baru untuk saham tersebut. Harga acuan ini biasanya adalah harga penutupan pada Cum Date dikurangi dengan nilai dividen tunai per saham.
- Contoh: Jika penutupan pada Cum Date adalah Rp 1.000 dan dividen adalah Rp 50, maka harga acuan teoritis pada Ex-Date akan menjadi Rp 950.
Harga teoritis ini kemudian digunakan sebagai harga referensi atau harga acuan (Previous Price) untuk perhitungan batasan auto rejection (batas atas dan batas bawah pergerakan harga saham dalam satu hari) pada Ex-Date. Ini bukan berarti harga pembukaan pasti Rp 950, tapi rentang pergerakan hari itu akan berpusat pada Rp 950.
-
Mekanisme Pra-Pembukaan (Pre-Opening Session): Meskipun ada harga teoritis, harga pembukaan riil tetap terbentuk melalui proses Pra-Pembukaan.
- Selama sesi Pra-Pembukaan (biasanya dari pukul 08:55:01 WIB - 08:59:59 WIB di BEI), Anggota Bursa (broker) memasukkan penawaran jual (offer) dan permintaan beli (bid) dari nasabah.
- Pada Ex-Date, banyak dividend hunter yang sudah mendapatkan hak dividennya akan memasang order jual pada harga yang cenderung lebih rendah dari harga penutupan Cum Date. Sementara itu, investor yang ingin membeli saham (dan tidak lagi mendapatkan dividen) akan memasang order beli pada harga yang juga sudah memperhitungkan tidak adanya hak dividen.
- Sistem JATS Next-G akan mempertemukan penawaran jual dan permintaan beli terbanyak untuk membentuk Harga Pembukaan (Opening Price).
Apakah Harga Pembukaan Otomatis Terbentuk dari Harga Penutupan Hari Sebelum Ex-Date Dikurangi Dividen Per Saham?
Secara teoritis dan sebagai acuan bagi Bursa, ya, ada penyesuaian nilai sebesar dividen per saham. Bursa Efek Indonesia memang punya mekanisme untuk menyesuaikan harga acuan saham setelah adanya tindakan korporasi seperti pembagian dividen.
Namun, harga pembukaan yang terbentuk secara riil di pasar tidak selalu sama persis dengan harga penutupan Cum Date dikurangi dividen per saham. Ada beberapa alasan:
- Sentimen Pasar: Sentimen investor pada hari itu bisa memengaruhi. Jika ada berita buruk secara umum, penurunan bisa lebih besar. Jika ada sentimen positif, penurunan bisa lebih kecil atau bahkan sedikit diimbangi.
- Permintaan dan Penawaran Riel: Meskipun ada penyesuaian teoritis, pasar tetap beroperasi berdasarkan permintaan dan penawaran. Jika ada volume order jual yang sangat besar dari dividend hunter yang ingin segera melepas saham mereka, harga pembukaan bisa turun lebih dalam dari sekadar nilai dividen. Sebaliknya, jika ada minat beli yang kuat dari investor jangka panjang yang melihat saham tersebut murah setelah penyesuaian dividen, penurunan bisa tidak terlalu drastis.
- Pembulatan Harga (Fraksi): Harga saham bergerak dalam kelipatan tertentu (fraksi). Kadang-kadang, nilai penyesuaian dividen tidak persis sama dengan fraksi terdekat, sehingga pembukaan bisa sedikit di atas atau di bawah nilai teoritis.
Jadi, bisa disimpulkan:
- Ada penyesuaian nilai teoritis yang dilakukan oleh bursa (harga penutupan Cum Date - dividen) untuk menghitung harga acuan dan batas auto rejection pada Ex-Date.
- Harga pembukaan riil pada Ex-Date terbentuk melalui interaksi permintaan dan penawaran di sesi Pra-Pembukaan, namun cenderung kuat mengikuti harga teoritis yang sudah dikurangi nilai dividen tersebut. Penurunan harga ini adalah hal yang wajar dan merupakan cerminan bahwa nilai kas perusahaan telah berkurang karena dibagikan sebagai dividen.
Comments
Post a Comment